Kamis, 22 Juni 2023

Ketika Hari Penerimaan Buku Raport Tiba



Penerimaan laporan hasil belajar siswa selalu memunculkan berbagai perasaan bagi orang tua. Bagaimana tidak, setiap orang tua mengharapkan anaknya berhasil dalam belajar. Bahkan, dengan berbesar harapan anaknya bisa menyabet rangking kelas. Meskipun tidak menafikan kekurangan pada diri anaknya. 


Tak sedikit orang tua yang khawatir nilai anaknya jeblok, karena mereka merasa tidak bisa mendampingi buah hatinya ketika belajar. Bahkan meskipun tidak banyak, ada orang tua yang takut dengan hasil yang diperoleh anaknya. Terlebih ketika minat belajar anaknya menurun.


Berdasarkan penelitian kecil yang penulis lakukan pada  beberapa orang tua menghasilkan data yang beragam. Namun kebanyakan takut bila anaknya gagal dalam belajar hingga akhirnya menjadi siswa "kesayangan" gurunya. Beberapa diantaranya berharap anaknya tidak hanya naik kelas, tetapi juga mendapatkan rangking.


Penerimaan raport sering menjadi ajang "membandingkan" antar anak oleh orang tuanya. Terkadang muncul sebab yang terlambat dari akibat. Seperti ketika anak meraih nilai bagus, orang tua akan menceritakan cara  belajar anak hingga mendapatkan nilai bagus. Begitu pula sebaliknya. 


Bagaimana seharusnya orang tua bersikap ketika menerima raport anaknya? Setiap orang tua mempunyai pandangan dan "gaya" yang berbeda dalam hal ini. Setidaknya hal-hal berikut ini perlu menjadikan pertimbangan orang tua saat menerima buku raport dan memberikan tanggapan kepada anaknya.


1. Menanyakan peringkat anak.

Masihkah kita memmpermasalahkan rangking kelas? Bila iya, buat apakah hal itu? Sedikit banyak kita sering menemukan kasus, teman sekolah kita yang dulu biasa-biasa saja namun sekarang sukses hidupnya? Bahkan lebih banyak orang yang sukses dalam usahanya bukan dari mereka yang pandai ataupun pernah rangking kelas.

Meskipun ada juga dari teman kira yang pandai sejak kecil sukses ketika dewasa, namun kita sering mengatakan dengan ucapan yang kurang mengenakkan seperti "Ya pastaslah...."


2. Mendapati nilai jelek.

Kadang orang tua akan "kalap" ketika nilai anaknya jelek hingga tidak naik kelas. Seraya menumpahkan kekesalan, segala "nasihat" yang tidak dibutuhkan anak saat itu keluar semua. Percayalah, anak-anak kita sudah down dengan nilai itu. Jangan kita tambahi dengan berbagai kata-kata yang menjadikan hidupnya serasa tidak berguna. Tenangkan hati kita, kuatkan perasaan bahwa semua itu telah terjadi. Sadarlah, sedikit banyak kita turut andil dalam hal ini. Terlalu sibuk dengan pekerjaan, capek ketika harus mendampingi anak belajar. Bahkan situasi psikis yang terjadi di rumah akan terbawa dan mengganggu konsentrasi belajar di sekolah.


3. Pasrah pada kemampuan.

Jangan sekali-kali menyerah, kuatkan dan bimbingan anak agar terus belajar.  Jadikan moment ini sebagai pemantik semangat baru. Jangan bumbui anak dengan kata "sudah takdirmu". Tugas manusia termasuk kita dan anak-anak adalah usaha atau belajar. Sedangkan hasil adalah urusan Tuhan. Banyak dari orang sukses yang berawal dari kegagalan.  Bukan karena takdir semata, tetapi proses yang dialami telah menuntun ke jalan keberhasilan. Anak hebat bukan anak yang tidak pernah jatuh, tapi mereka yang jatuh dan mampu bangkit kembali. 


4. Semua anak hebat

Membandingkan antar anak tidaklah benar, termasuk dalam asesmen. Pada dasarnya setiap penilaian bertujuan untuk memetakan potensi anak yang dapat dikembangkan. Setiap anak mempunyai kemampuan dan kelebihan sendiri-sendiri. Bisa jadi anak A tidak mampu dalam bahasa, tapi memiliki keahlian dalam seni. Anak B tidak pandai dalam matematika, tapi pandai dalam sastra, dan seterusnya. Ingat,  semakin tinggi pendidikan akan semakin sempit ruang lingkup keilmuan yang dipelajarinya. Jadi, salah ketika anak tidak rangking kelas dianggap bodoh dan sebaliknya. 


5. Anak adalah investasi dunia akherat

Sudahkah kita merawat dan menjaga amanat yang diberikan Tuhan kepada kita? Bagaimana kita mendidik dan membesarkannya dengan baik dan dengan cara yang halal? Ingat, mendidik anak bukan hanya tugas guru di sekolah, tetapi tanggungjawab bersama. Sebagus apapun didikan di rumah, ketika berkumpul dalam komunitas yang salah di sekolah tentu akan rusak semuanya. Sebaliknya, sebaik apapun pembelajaran yang dilakukan di sekolah tidak akan berarti bila tidak ada kelanjutannya di dalam keluarga. Jika kita menyadari anak sebagai amanat yang harus dijaga dan harus dipertanggunghawabkan kelak. Kita tidak akan berani menelantarkan dan menyiakannya saat ini. Kita akan berusaha membesarkannya dengan benar, memberikan nafkah dengan cara halal, dan memohonkan kebaikan untuknya pada setiap doa yang kita panjatkan pada Allah.


6. Jangan berlaku zalim

Meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya merupakan definisi zalim. Memposisikan anak laksana raja, bukan langkah yang tepat dan berimbas pada kehidupannya kelak. Menganggap orang tua sebagai penanggung jawab dalam hal materi semata juga tidak tepat. Semuanya perlu ditempatkan pada fungsinya masing. Hanya saja kedudukan orang tua selalu berjalan seiring bertambahnya usia anak dan tuntutan pola kehidupan yang selalu berubah secara dinamis.


Selanjutnya jadikan momentun penerimaan buku raport sebagai media introspeksi diri untuk siswa, guru, orang tua bahkan lembaga pendidikan. Karena sejatinya tujuan pendidikan bukan sekedar menjadikan anak pintar saja. Pendidikan sejatinya adalah membekali pengetahuan siswa untuk dapat mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan saat ini dan yang akan datang. Tentunya dengan penuh semangat dan niat yang iklas hal tersebut  bisa senantiasa diupayakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mendaki Gunung

Untuk ananda Arfian Hari ini kamu melakukan kegiatan mendaki gunung.  Seperti kegiatan yang pernah kamu lakukan bersama teman-temanmu.  Aku ...