Minggu, 07 Juli 2024

Mendaki Gunung



Untuk ananda Arfian


Hari ini kamu melakukan kegiatan mendaki gunung. 

Seperti kegiatan yang pernah kamu lakukan bersama teman-temanmu. 

Aku dukung semangat dan motivasimu.


Kamu persiapkan segalanya, hingga hal-hal kecil yang mungkin kamu butuhkan.

Butuh berhari-hari, untuk mematangkan rencanamu.

Bahkan mungkin saja, kamu tak bisa lepas dari pikiran tentang mendaki.

Hanya untuk sebuah pendakian, tak lebih.


Nak, sadarkah kamu?

Kamu tengah mencoba menaklukkan sebuah masalah.

Ya, sebuah masalah yang bisa saja terjadi dalam kehidupan manusia.


Dalam kehidupan, tentu banyak masalah. 

Bukan hanya untuk ditaklukkan, bahkan dihindari.

Tapi harus kamu hadapi dan selesaikan.


Sadarkah kamu...

Bila hanya untuk satu pendakian saja,

Kamu butuh beberapa hari untuk mempersiapkannya.

Bagaimana dengan nasib dan masa depanmu? 

Sudahkah kamu memikirkan dan menyiapkannya?


Nak, sadarlah...

Bahwa untuk menyongsong masa depanmu,

Tidaklah cukup hanya dengan semangat dan motivasi.

Diperlukan setrategi dan pengendalian diri.


Setiap masalah dalam kehidupan ibarat sebuah gunung yang lengkap dengan tebing dan jurang. 

Kaku tidak harus selalu mendakinya. Bisa saja kamu berputar arah untuk sampai di balik gunung itu.


Nak...

Bila kamu memahami apa itu masa depan,

Pasti kamu akan mempersiapkan segalanya.

Persiapan yang jauh lebih baik, dari sekedar persiapan mendaki.


Sebagai jiwa pendaki, tentu hanya ada satu tujuan.

Maju dan terus mendaki untuk mencapai puncak.

Namun, kamu harus sadar. 

Tak selamanya kamu akan berdiam di puncak itu.


Begitupun dengan kehidupan ini,

Untuk mencapai sebuah kesuksesan, kamu harus bersiap sejak dini.

Bahkan, tak mungkin kamu akan tetap berada pada satu kesuksesan. Kamu harus belajar merengkuh kesuksesan-kesuksesan yang lain.


Bila kamu telah selesai pendakian,

Bukan cerita heroik yang akan kamu sampaikan.

Bukan pula syahdunya suasana yang menggugah iba.

Tapi...

Langkah yang akan kamu lakukan setelahnya.

Bisa saja, kamu akan memeragakan strategimu.

Untuk mendaki masa depan yang tidak hanya terjal, tapi juga curam.


Persiapkanlah segalanya lebih baik lagi,

Tidak ada orang lain yang lebih memahami dirimu, selain kamu.

Berusahalah untuk menjadi dirimu sendiri, bukan orang lain. 

Berubahlah dari hal-hal yang tidak baik, menjadi baik bahkan lebih baik lagi. 

Karena...

Sesunguhnya Allah tidak merubah nasib seseorang, 

Hingga orang tersebut merubahnya sendiri. 


Selamat mendaki, nak. 

Nikmatilah setiap keindahan dan kebesaran karinia-Nya.

Namun jangan terpukau dengan nikmatnya dunia.

Karena...

Takkan diperoleh suatu hasil, pada diri yang dimanjakan.


Selamat berproses..

Sebagaimana ulat menjadi kupu. 

Sebagaimana gerumis menjadi pelangi.

Dan sebagaimana dirimu yang akan bertanggungjawab pada diri sendiri.


Paten, 7 Juli 2024

             1 Muharram 1446


Kamis, 22 Juni 2023

Ketika Hari Penerimaan Buku Raport Tiba



Penerimaan laporan hasil belajar siswa selalu memunculkan berbagai perasaan bagi orang tua. Bagaimana tidak, setiap orang tua mengharapkan anaknya berhasil dalam belajar. Bahkan, dengan berbesar harapan anaknya bisa menyabet rangking kelas. Meskipun tidak menafikan kekurangan pada diri anaknya. 


Tak sedikit orang tua yang khawatir nilai anaknya jeblok, karena mereka merasa tidak bisa mendampingi buah hatinya ketika belajar. Bahkan meskipun tidak banyak, ada orang tua yang takut dengan hasil yang diperoleh anaknya. Terlebih ketika minat belajar anaknya menurun.


Berdasarkan penelitian kecil yang penulis lakukan pada  beberapa orang tua menghasilkan data yang beragam. Namun kebanyakan takut bila anaknya gagal dalam belajar hingga akhirnya menjadi siswa "kesayangan" gurunya. Beberapa diantaranya berharap anaknya tidak hanya naik kelas, tetapi juga mendapatkan rangking.


Penerimaan raport sering menjadi ajang "membandingkan" antar anak oleh orang tuanya. Terkadang muncul sebab yang terlambat dari akibat. Seperti ketika anak meraih nilai bagus, orang tua akan menceritakan cara  belajar anak hingga mendapatkan nilai bagus. Begitu pula sebaliknya. 


Bagaimana seharusnya orang tua bersikap ketika menerima raport anaknya? Setiap orang tua mempunyai pandangan dan "gaya" yang berbeda dalam hal ini. Setidaknya hal-hal berikut ini perlu menjadikan pertimbangan orang tua saat menerima buku raport dan memberikan tanggapan kepada anaknya.


1. Menanyakan peringkat anak.

Masihkah kita memmpermasalahkan rangking kelas? Bila iya, buat apakah hal itu? Sedikit banyak kita sering menemukan kasus, teman sekolah kita yang dulu biasa-biasa saja namun sekarang sukses hidupnya? Bahkan lebih banyak orang yang sukses dalam usahanya bukan dari mereka yang pandai ataupun pernah rangking kelas.

Meskipun ada juga dari teman kira yang pandai sejak kecil sukses ketika dewasa, namun kita sering mengatakan dengan ucapan yang kurang mengenakkan seperti "Ya pastaslah...."


2. Mendapati nilai jelek.

Kadang orang tua akan "kalap" ketika nilai anaknya jelek hingga tidak naik kelas. Seraya menumpahkan kekesalan, segala "nasihat" yang tidak dibutuhkan anak saat itu keluar semua. Percayalah, anak-anak kita sudah down dengan nilai itu. Jangan kita tambahi dengan berbagai kata-kata yang menjadikan hidupnya serasa tidak berguna. Tenangkan hati kita, kuatkan perasaan bahwa semua itu telah terjadi. Sadarlah, sedikit banyak kita turut andil dalam hal ini. Terlalu sibuk dengan pekerjaan, capek ketika harus mendampingi anak belajar. Bahkan situasi psikis yang terjadi di rumah akan terbawa dan mengganggu konsentrasi belajar di sekolah.


3. Pasrah pada kemampuan.

Jangan sekali-kali menyerah, kuatkan dan bimbingan anak agar terus belajar.  Jadikan moment ini sebagai pemantik semangat baru. Jangan bumbui anak dengan kata "sudah takdirmu". Tugas manusia termasuk kita dan anak-anak adalah usaha atau belajar. Sedangkan hasil adalah urusan Tuhan. Banyak dari orang sukses yang berawal dari kegagalan.  Bukan karena takdir semata, tetapi proses yang dialami telah menuntun ke jalan keberhasilan. Anak hebat bukan anak yang tidak pernah jatuh, tapi mereka yang jatuh dan mampu bangkit kembali. 


4. Semua anak hebat

Membandingkan antar anak tidaklah benar, termasuk dalam asesmen. Pada dasarnya setiap penilaian bertujuan untuk memetakan potensi anak yang dapat dikembangkan. Setiap anak mempunyai kemampuan dan kelebihan sendiri-sendiri. Bisa jadi anak A tidak mampu dalam bahasa, tapi memiliki keahlian dalam seni. Anak B tidak pandai dalam matematika, tapi pandai dalam sastra, dan seterusnya. Ingat,  semakin tinggi pendidikan akan semakin sempit ruang lingkup keilmuan yang dipelajarinya. Jadi, salah ketika anak tidak rangking kelas dianggap bodoh dan sebaliknya. 


5. Anak adalah investasi dunia akherat

Sudahkah kita merawat dan menjaga amanat yang diberikan Tuhan kepada kita? Bagaimana kita mendidik dan membesarkannya dengan baik dan dengan cara yang halal? Ingat, mendidik anak bukan hanya tugas guru di sekolah, tetapi tanggungjawab bersama. Sebagus apapun didikan di rumah, ketika berkumpul dalam komunitas yang salah di sekolah tentu akan rusak semuanya. Sebaliknya, sebaik apapun pembelajaran yang dilakukan di sekolah tidak akan berarti bila tidak ada kelanjutannya di dalam keluarga. Jika kita menyadari anak sebagai amanat yang harus dijaga dan harus dipertanggunghawabkan kelak. Kita tidak akan berani menelantarkan dan menyiakannya saat ini. Kita akan berusaha membesarkannya dengan benar, memberikan nafkah dengan cara halal, dan memohonkan kebaikan untuknya pada setiap doa yang kita panjatkan pada Allah.


6. Jangan berlaku zalim

Meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya merupakan definisi zalim. Memposisikan anak laksana raja, bukan langkah yang tepat dan berimbas pada kehidupannya kelak. Menganggap orang tua sebagai penanggung jawab dalam hal materi semata juga tidak tepat. Semuanya perlu ditempatkan pada fungsinya masing. Hanya saja kedudukan orang tua selalu berjalan seiring bertambahnya usia anak dan tuntutan pola kehidupan yang selalu berubah secara dinamis.


Selanjutnya jadikan momentun penerimaan buku raport sebagai media introspeksi diri untuk siswa, guru, orang tua bahkan lembaga pendidikan. Karena sejatinya tujuan pendidikan bukan sekedar menjadikan anak pintar saja. Pendidikan sejatinya adalah membekali pengetahuan siswa untuk dapat mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan saat ini dan yang akan datang. Tentunya dengan penuh semangat dan niat yang iklas hal tersebut  bisa senantiasa diupayakan.

Jumat, 02 Juni 2023

Kilas Perjalanan, Kenangan Kita Waktu itu



Perjalanan jamaah calon haji 2023 kloter 26 Jawa Tengah dari KBIH Al Ittihad mengingatkan dan menggugah memori perjalanan haji kita empat tahun silam. Betapa tidak, perjalanan dan jadwalnya hampir sama dengan perjalanan kita kala itu.


Diawali dengan keberangkatan dari Magelang dan tiba di Asrama Haji Donohudan pagi, selepas solat Subuh di luar asrama. Kamis pagi waktu itu, hingga kemudian berkumpul di ruang penyambutan. Hal yang sama tentunya untuk kegiatan musim tahun ini, kenangan selebihnya tentunya adalah pemberian gelang "suci" sebagai identitas kita selain paspor. 


Mungkin diantara kita  ada yang masih mengenang ketika mendapat tanda "kehormatan" selaku karu dan karom. Namun yang lebih membahagiakan kita saat itu adalah karunia dan anugerah Allah, yang telah memanggil kita menjadi tamu-Nya. Meski baru sampai di Asrama, bahkan masih di tanah air.


Jumat dini hari tadi, persis seperti kita dulu. Mengantri dan menunggu bis yang akan mengantar jamaah menuju bandara untuk segera meninggalkan tanah air. Pukul 02.35 jamaah kloter 26 masuk pesawat bahkan sudah mulai bergerak. Teringat ketika itu, mungkin kita masih mengingat orang yang duduk di sebelah kita. Bisa jadi, itu adalah orang yang benar kita cintai. Bahkan mungkin di antara orang-orang itu telah lebih dulu berpulang. Rasanya baru kemarin hal itu berlangsung. 


Pukul 11.20 WAs, jamaah kloter 26 termasuk keluarga kita dari Al Ittihad dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Madinah. Kita ingat, saat-saat pertama tiba di tanah suci Madinah. Rasa syukur haru berbaur hingga kita tidak kuasa berkata, hanya buliran putih bak berlian turun dari sudut mata kita. Rasa rindu yang tak tertahankan kepada junjungan kita, Rosul kekasih Allah. Sosok yang belum pernah kita bertemu, namun kita meyakininya. Mungkin hal yang sama dirasakan oleh jamaah hari ini yang sedang dalam perjalanan udara menuju Bandara Madinah.


Dalam perjalanan menuju "Kota Nabi", betapa syukurnya kita terhadap kesuburan tanah air kita. Di sisi lain, kita tertegun dan kagum dengan perjuangan Nabi dan sahabatnya dalam menegakkan dan menyebarkan Islam. Di tengah tanah yang tandus dan gersang.


Kembali kita terdiam, membisu, bahkan tidak ada kata yang terucap kecuali deraian air mata. Tatkala dari kejauhan mulai nampak menara Masjid Nabawi dan payung-payung raksasanya. Sesaat lagi, kita akan segera tiba di persinggahan dan bergegas menuju solat Jumat pertama di Masjid itu, kala itu. 


Mewahnya hotel dengan berbagai fasilitas, tidak mampu menghentikan niat dan asa untuk segera melaksanakan solat di masjid itu. Sayup terdengar suara azan, sebagai pertanda waktu solat segera tiba. Betapa rapuh dan lemahnya kita saat itu. Sebagai imam rumah tangga yang tegar dan tegas dalam mengatur keluarga. Ternyata tidak mampu membuat beteng untuk menahan air mata terus menetes.


Meskipun terlambat hadir di masjid, meskipun "hanya" solat jumat di teras masjid itu. Namun sekali lagi, ini adalah emperan masjid Nabi. Bahkan di kota yang disucikan. Allah telah memampukan kita datang ke kota Nabi, berkunjung dan ziarah ke makam Rosul. 


Semoga juga Allah memberikan kemudahan keselamatan dan kesehatan kepada saudara kita jamaah calon haji kloter 26 dari Al Ittihad khususnya serta jamaah haji pada umumnya. Teriring doa;


زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ

_Zawwadakallâhut taqwâ, wa ghafara dzanbaka, wa yassara lakal khaira haitsumâ kunta._


Artinya: “Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosamu, dan memudahkanmu dalam jalan kebaikan di mana pun kau berada.


Magelang, 2 Juni 2023


Senin, 05 Juli 2021


Jangan Pernah Menyalahkan
(Pemburu kata)


Jangan salahkan angin, 
ketika sebatang pohon yang Anda tanam roboh. 
Bisa jadi, pohon tersebut kurang kekuatan struktur penyusun batangnya. 
Atau mungkin Anda terlalu menzalimi pohon tersebut dengan mengurangi suplai makanannya.


Jangan salahkan hujan, 
bila banjir datang menerjang. 
Sedangkan menurut Anda rumah anda sudah tertera tulisan "Bebas banjir". 
Bisa jadi Anda kurang cermat dalam memperhitungkan segala resikonya.


Jangan salahkan diri Anda, 
jika anda jatuh miskin. 
Bisa jadi Anda lupa menghitung grafik dan masa Anda kaya. 
Mungkin anda terlalu sibuk dengan kekayaan Anda, 
sehingga anda terlenakan dan siap untuk tidak kaya lagi. 
Bisa jadi, anak tangga yang anda naiki untuk kaya telah sampai pada anak tangga terakhir. 
Dan Anda tidak tahan berlama-lama di atas yang sarat dengan goncangan dan terpaan angin.


Jangan salahkan orang lain, 
bila sedikitpun tidak ada kebenaran pada diri Anda. 
Sedangkan sedikitpun ada anggapan anda, bahwa orang lain adalah seperti Anda. Menyalahkan orang lain hanya akan melukai perasaan dan pikiran Anda.


Jangan salahkan Tuhan, 
bila anda merasa menjadi orang yang tidak berguna. 
Bisa jadi, 
anda belum berkesempatan mempergunakan segenap kemampuan dalam diri Anda untuk kebaikan orang lain. 
Mulai sekarang, belajarlah menyelami setiap kebutuhan orang lain. 
Dan anda bisa membantunya.


Jangan salahkan tulisan ini, 
bisa saja tulisan ini tidak mengharuskan Anda baca. 
Mungkin juga, 
penulisnya sedang mencoba mencari ide di setiap lorong waktu yang ada. Sementara Anda pada suatu tempat yang jauh dari sumber cahaya.


Semoga kesalahan saya ini, bisa ditebus dengan tulisanku.

Merapi di ujung senja...

Senin, 21 Juni 2021

 Sepatah Kata untuk Bapak Ibu Hebat


Bapak/Ibu yang dirahmati Allah, terima kasih atas perjuangannya dalam mendampingi dan menjadi guru di masa pandemi ini. Semoga keiklasan Bapak/Ibu akan menjadi keberkahan bagi putra-putri dalam menuntut ilmu. 


Mohon maaf bila hasilnya kurang menggembirakan Bapak/Ibu semua. Sebenarnya nilai rapor bukan satu-satunya yang bisa membuat kita bahagia. Banyak faktor lain dari anak-anak kita yang tidak bisa kita ukur dengan nilai rapor. Satu hal yang menjadikan kesyukuran kita semua, kita masih diberi kesempatan untuk mendampingi putra-putri kita untuk belajar. 


Yakinlah, ke depan kehidupan akan berat untuk anak-anak kita. Sehingga nilai rapor bukan hanya sekedar angka-angka yang perlu kita banggakan. Setidaknya kita menjadi tahu, betapa berharganya mereka. Betapa mahalnya anak-anak kita.


Benar bahwa anak kita adalah amanah Tuhan yang harus kita jaga, kita rawat dan kita bimbing agar kelak bisa menjadi penerang dan pelindung orang tuanya. 


Sejenak kita luangkan waktu, setelah melihat hasilnya, kita peluk anak-kita. Kita selamati mereka, karena telah menyelesaikan belajar di kelas 5. Berjanjilah untuk lebih memperhatikan anak-anak kita, doakanlah mereka agar kelak menjadi manusia yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi-Nya.


Hari ini Bapak/Ibu telah lulus menjadi guru sejati di rumah, tapi sejatinya Bapak/Ibu baru memulai untuk memahami betapa beratnya mendidik anak-anak kita. Berbahagialah, dan bersyukurlah atas nikmat sehat yang kita terima. Sehingga kita bisa selalu mendampingi putra-putri kita belajar.


Marilah kita bersama-sama menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi yang cerdas, kuat dan islami. Agar kita semua selamat dari segala fitnah dunia, serta selamat dari tuntutan tanggungjawab di akhirat kelak. 


Teriring doa untuk Bapak/Ibu dan anak-anak, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya. Memberikan kesehatan kepada kita semua, meluaskan kesabaran kita. Serta memanjangkan umur kita dengan keberkahan, sehingga kita bisa memetik hasilnya melalui anak-anak kita kelak, insyaAllah.


Aamiin.

Senin, 12 April 2021

PENGEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN - ppt download

PENGEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN - ppt download: PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM Makna Pengembangan Pendidikan Islam Pengembangan dapat memiliki makna ganda, yaitu : makna kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif bagaimana menjadikan pendidikan Islam leih besar, merata, da meluas pengaruhnya dalam konteks pendidikan pada umumnya. Kualitatif : bagaimana menjadkan pendidikan Islam lebih baik, bermutu, dan lebih maju sejalan dengan de-ide dasar atau nilai-nilai Islam. Juga dapat berkonstriusi terhadap pembangunan Nasional dan Internasional.

Mendaki Gunung

Untuk ananda Arfian Hari ini kamu melakukan kegiatan mendaki gunung.  Seperti kegiatan yang pernah kamu lakukan bersama teman-temanmu.  Aku ...