Kalau menulis itu hanya untuk menceritakan diri sendiri, sedangkan kita merasa tiada seorangpun lebih baik dari kita. Sementara kita tidak pernah melihat atas segala kekurangan dalam diri.
Kalau menulis itu hanya untuk menyakiti orang lain, sedangkan sedikitpun kita tidak mau mencoba memahami apa yang telah mereka lakukan kepada kita.
Kalau menulis itu hanya untuk membuka aib orang lain. Bahkan kita menganggap bahwa sedikit kebaikan yang mereka lakukan, adalah upaya untuk menutupi aibnya.
Bila menulis hanya akan melahirkan ketidaknyamanan, bahkan perpecahan. Sedangkan kebaikan masih bisa kita lakukan, namun kita enggan melakukannya. Bahkan, mungkin saja mereka sedang melakukan upaya untuk persatuan.
Kalau itu semua adalah niat dan tujuan anda, meskipun hanya kecil, namun tetap akan menjadikan diri kita resah. Maka berhentilah menulis!. Sebab tiada sesuatu yang sangat kecilpun terlepas dari sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan kelak.
Ingatlah, bahwa sifat pamer akan menghapus habis semua sedekah kita. Seperti angin yang menyapu debu yang menempel pada benda.
Ingatkah, bahwa mengolok-olok orang lain adalah terlarang. Karena, bisa jadi orang yang kita olok-olok dan kita rendahkan ternyata jauh lebih baik dari kita.
Ingatlah, bahwa menggunjing dan membuka aib saudara kita (orang lain) adalah seperti memakan bangkai saudara kita yang telah mati. Menjijikkan tentunya, namun mengapa kita masih senang saja melakukannya.
Namun, bila menulis itu adalah untuk kebaikan. Bila menulis itu untuk menghibur saudara kita yang sedang dirundung kesusahan. Bila menulis itu sebagai suatu usaha mendidik dan menenteramkan hati dan pikiran. Bila menulis itu sebagai usaha untuk saling mengingatkan dan menasihati. Maka menulislah, sebab menulis itu akan mengikat ilmu yang kita dapat. Sebagaimana tali tambat yang mengikat binatang peliharaan kita.
Menulislah! Karena tanpa tulisan, mungkin dunia ini sudah tidak ada lagi. Tanpa tulisan, mungkin sejarah kehidupan manusia itu hilang.
#Muhasabah_diri
Kalau menulis itu hanya untuk menyakiti orang lain, sedangkan sedikitpun kita tidak mau mencoba memahami apa yang telah mereka lakukan kepada kita.
Kalau menulis itu hanya untuk membuka aib orang lain. Bahkan kita menganggap bahwa sedikit kebaikan yang mereka lakukan, adalah upaya untuk menutupi aibnya.
Bila menulis hanya akan melahirkan ketidaknyamanan, bahkan perpecahan. Sedangkan kebaikan masih bisa kita lakukan, namun kita enggan melakukannya. Bahkan, mungkin saja mereka sedang melakukan upaya untuk persatuan.
Kalau itu semua adalah niat dan tujuan anda, meskipun hanya kecil, namun tetap akan menjadikan diri kita resah. Maka berhentilah menulis!. Sebab tiada sesuatu yang sangat kecilpun terlepas dari sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan kelak.
Ingatlah, bahwa sifat pamer akan menghapus habis semua sedekah kita. Seperti angin yang menyapu debu yang menempel pada benda.
Ingatkah, bahwa mengolok-olok orang lain adalah terlarang. Karena, bisa jadi orang yang kita olok-olok dan kita rendahkan ternyata jauh lebih baik dari kita.
Ingatlah, bahwa menggunjing dan membuka aib saudara kita (orang lain) adalah seperti memakan bangkai saudara kita yang telah mati. Menjijikkan tentunya, namun mengapa kita masih senang saja melakukannya.
Namun, bila menulis itu adalah untuk kebaikan. Bila menulis itu untuk menghibur saudara kita yang sedang dirundung kesusahan. Bila menulis itu sebagai suatu usaha mendidik dan menenteramkan hati dan pikiran. Bila menulis itu sebagai usaha untuk saling mengingatkan dan menasihati. Maka menulislah, sebab menulis itu akan mengikat ilmu yang kita dapat. Sebagaimana tali tambat yang mengikat binatang peliharaan kita.
Menulislah! Karena tanpa tulisan, mungkin dunia ini sudah tidak ada lagi. Tanpa tulisan, mungkin sejarah kehidupan manusia itu hilang.
#Muhasabah_diri